News Ticker

Urban Transportasi Jerman dan Tukang Bakso

Halo meine Freundin und Freund

“Urban”, adalah kata yang gw sendiri juga sebenernya gatau apa itu artinya, dan “transportasi” yaitu kata yang menurut gw adalah proses pemindahan barang atau orang. Sotoy abis ya, sebenernya umur gw baru seperempat abad, gw juga baru liat 0,01% sistem transportasi dari seluruh bumi ini (secara itung2an hiperbolis alias dilebih2kan). Harus diingat bahwa gw cuma bilang “lihat” dan bukan berarti gw paham. Dan dari apa yang gw (sekali lagi) liat dari perjalanan gw ke Berlin adalah sebuah sistem transportasi massal yang sangat MashaAllah keren, efektif, bersih dan sangat bisa diandalkan (untuk kepentingan janjian maen tentu saja). Seandainya saja sistem transportasi massal ini bisa diaplikasikan di Republik kita ini, gw sendiri ga bisa ngebayanginnya bakal jadi apa republik kita tercinta ini. Bayangin aja jakarta dulu, segitu ruwetnya transportasi jakarta, mungkin bisa terselamatkan. Misal, kita punya 5 urusan berbeda di penjuru jakarta dalam satu hari, dengan kondisi yang sekarang, minimal kita bisa ngeberesin 2 dari 5 urusan kita aja itu uda Alhamdulillah banget. Tapi dengan sistem transportasi massal yang efektif dan bisa diandalkan, gw yakin kalopun ada urusan ke-6 yang mendadak dateng masi bisa diselesaikan, tergantung berapa banyak energi yang tersisa dan tergantung seberapa penting urusan itu.

Bisa ga sih langsung aja sistem di Berlin ini dijatohin aja langsung dari langit Jakarta atau langsung diterapkan sekarang juga? Jawaban dari gw yaitu gatau. Sistem transportasi di Berlin, oh atau gw ambil contoh lain aja yang infonya bisa agak diandalkan, di Vienna, Austria, subway nya itu computerized. Masinis tetep ada, tetapi lebih berperan sebagai supervisor aja. Mengamati supaya jalan lancarnya kaya pak kusir. Transportasinya terdiri dari U-Bahn alias kereta bawah tanah alias subway, S-Bahn alias kereta cepat yang melingkupi daerah-daerah subUrban menuju Urban. Di Urbannya sendiri ya tadi itu, U-bahn, terus ada lagi Strassenbahn alias trem kemudian bis. Setiap sarananya bersih mulai dari stasiunnya juga, kemudian bisa diakses oleh orang-orang yang cacat atau bawa bayi atau mahasiswa miskin yang pindah kosan tanpa menggunakan jasa pindahan (misal bawa kulkas dan alat-alat berat lainnya). Di setiap stasiun ada mesin tiket dengan layar sentuh. Ada juga loket yang ada orangnya untuk kasus-kasus spesial seperti tiket lansia atau lain-lain. Masih di stasiun disimpan banyak kamera pengawas untuk melindungi pengguna. Bahkan ada juga alat komunikasi yang langsung tersambung dengan emergency response seperti 911 gitu lah. Penumpang sangat diperhatikan intinya. Di dalam kereta pun begitu juga disimpan banyak kamera. Terus disediakan juga tempat-tempat khusus di dalam sarana transportasinya untuk orang cacat, lansia, bawa bayi ato bawa koper. Interval subway itu 3-5 menit di waktu sibuk dan makin besar intervalnya di waktu ga sibuk (bahasa yang seadanya aja lah ya), dan interval bis 10 sampe 30 menit juga ada bervariasi tergantung waktu sibuk. Dari intervalnya aja kita tau kalo sistem transportasinya “memaksa” orang untuk make kereta karena apa?? karena itulah pokonya pasti tau jawabannya. Sangat-sangat dimanja penumpangnya menurut gw. Tiket juga ga diperiksa setiap waktu, cuma kalau ketahuan lo ga punya tiket, denda 40€ di Berlin dan 100€ di Vienna. Ga pake ampun. Kebayanglah ya betapa tentramnya naek angkutan umum disini.

Terus masih adalagi taksi tapi taksi itu jelas bukan transportasi massal. Nah justru masalahnya disitu, pengaplikasian sistem ini di Jakarta secara langsung bisa jadi juga menghancurkan impian-impian supir taksi kecil alias ojek, becak, bajaj dan kawan kawan. Karena sudah terkomputerisasi maka artinya sistem ini sebetulnya tidak memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah besar. Ditambah sistem operasi kereta tentu aja dong ga sama dengan sistem operasi becak. Perlu ada adaptasi besar-besaran untuk masyarakat agar bisa menerima sistem ini, dan mungkin perombakan besar-besaran tata kota Jakarta sendiri. Karena dalam bayangan gw, ojek, becak dan bajaj bisa dipergunakan untuk salah satu alternatif atraksi wisata kota Jakarta, kaya gondola di Venice. Itu salah satu dari apa yang ada di bayangan gw, dan mungkin malah cuma satu-satunya. Dengan begitu berarti kota Jakarta harus memisahkan antara jalur transportasi massal, transportasi wisata, transportasi pribadi, transportasi logistik, transportasi sepeda dan para pencinta trotoar (terserah lo mau artiin apa). Intinya evolusi besar-besaran Jakarta.

Kenapa gw sangat tertarik akan tema ini, bukan karena gw seorang green aktivis yang khawatir sama kadar polusi, gw lebih khawatir sama kemacetan Jakarta, jumlah kendaraan yang bertambah akibat sistem kredit yang mudah. Setiap orang di Jakarta punya area privasinya masing-masing di tempat publik. Ga salah sih kenapa sistem kredit menjamur, ya karena sistem transportasinya yang bikin jelimet, orang-orang butuh transportasi yang aman dan tentram seperti sedan-sedan eropa. Padahal sebenernya bukan solusi juga kalo diliat dari hasilnya sekarang, justru memperkeruh situasi. AH, gw baru dapet ide baru jadi gw potong aja paragraf ini sampe disini saja.

Oke ide baru itu adalah, berhubung sama masalah Jakarta yang langganan dilanda banjir, yaitu memetakan daerah banjir tersebut kemudian dibikin semacam pelabuhan-pelabuhan kecil untuk kapal-kapal kecil tentunya di titik-titik rawan banjir. Di luar musim banjir, kapal-kapal itu ya menganggur saja disitu, pas banjir dateng bisa baru mereka dijadiin transportasi utama (lagi-lagi kaya Venice). Gw pernah baca dimana ya lupa, bahwa “alam itu bukan untuk ditentang tetapi untuk dirangkul” kira-kira begitu kalimatnya. Gw rasa cukup bagus juga ide untuk merangkul banjir. Merubah musibah menjadi hidayah halaah. Lagipula masyarakat kita harusnya terampil dalam mengoperasikan kapal karena kan negara ini kepulauan yang berapa persennya (males ngitung) adalah air, baik asin maupun tidak asin. Gw ga bilang tawar karena gw yakin rasa air di negara ini bukan cuma asin dan tawar, tapi masi ada rasa oli dan rasa bangke kucing dan rasa lain-lainnya yang akan jadi tidak pantas kalo gw bicara terlalu eksplisit.

SO!! (a la penduduk lokal kalo mulai kehabisan bahan basa basi) masih banyak yang pengen gw tulis tapi apa daya. Posisi mengetik yang tidak ideal bikin isi kepala dan kesadaran menguap lewat mulut. Ditambah gw bakal jadi orang yang banyak omong kalo terlalu banyak yang ditulis. Kalo sedikit ngomong dan sedikit bekerja itu ga masalah, yang bermasalah adalah sedikit bekerja banyak omong. Ini cuma dongeng pengantar tidur, sapa tau setelah baca ini di tidur nanti bisa bermimpi sesuatu yang jauh sangat spektakuler dari dongengnya. Oya, dari apa yang gw liat, masyarakat sini pun punya kebiasaan jelek seperti buang sampah sembarangan dan nyebrang se ala kadarnya. Di daerah-daerah tertentu yang ada penjaga peraturan baru deh manggut-manggut sok nurut. Jadi yang membedakan dengan negara kita ini ya sepertinya di hukumnya. Hukum yang kurang mencambuk dan tidak tepat guna. Gw pernah ngobrol sama tukang bakso (jadi cerita lagi gpp lah ya, mumpung ide nulisnya lewat), dia bilang kalo dia itu dulunya anak jalanan. Gatau orang tuanya sapa. Dia ngalamin dari jaman ngamen, minta-minta, nyopet, ngaibon, ngambiphur, nyemir sepatu, sampe ngobatngobatan terlanjur. Tapii, beliau bilang, “saya mikir dek, masa hidup saya gini-gini terus”, mulai lah beliau meniti jalan yang benar yaitu berdagang bakso. Dari awalnya jadi pegawai keliling gerobak bakso punya orang, sampai dia sekarang punya gerobaknya sendiri. Dia bukan orang kaya sekarang, cerita orang susah ke orang kaya terlalu klise menurut gw, ga menarik lagi. Oke dia hidup apa adanya sekarang. Hidup biasa, orang biasa. “Saya punya anak 4 dek, dan saya tau diri kondisi keuangan saya gimana, maka saya bikin strategi berkeluarga. Saya dan istri setuju untuk ngasih jarak (masih tipikal orang dulu yang bilang banyak anak banyak rejeki, dan teorinya sangat betul menurut gw dalam kasus beliau). 2 anak pertama saya, dua-duanya cewe itu lahirnya ga terlalu beda jauh, sekitar dua tahun. Kenapa dek? Biar saya dan istri sanggup buat biayain sekolahnya. Kalo saya langsung punya 4 anak, tekor dek” dia bilang gitu. Nah akhirnya disekolahkan dua anak pertamanya ini sampai sekarang lulus S2 ato S3 sodara-sodara gw lupa. Itu tuh, itu arti sukses sejati menurut gw. “Dua anak saya udah nikah sekarang dan uda dapet hidup yang layak dan bahkan cukup untuk biayain sekolah adik2nya, saya dan istri sih masih punya bakso dan langganan-langganan kita, dari itu aja uda cukup buat hidup kita berdua”. Meennn, asik bgt ga sih hidupnya, simpel dan sederhana. Oya anak ketiga dan keempatnya ini baru sekitar kelas 4 SD, kisah inspiratif banget, sangat brilian boleh gw bilang. Dia masih cerita banyak lagi tentang gimana dia mendidik dua anak pertamanya sampe mereka jadi “orang”. Dan ga lupa gw pesannya dia, “hidup mah gampang dek, jujur”.

Oke sekian pemirsa, mohon maaf atas kesotoyan ini

Salam dari Künzell kota kecil di tengah Jerman

Maju Indonesia!!

————————-

Author : Iris

Last 5 posts by elellecep

0.00 avg. rating (0% score) - 0 votes
  • panjiMajesty

    Bravoo !!! 😀

    Smoga kedepan kt bisa buat Indonesia jadi lebih indah dan melebihi Deutschland ..

    vielegruße 🙂