News Ticker

Melanjutkan Studi (Kuliah) ke Jerman Lewat Agen vs Tanpa Agen

Halo.. Ketemu lagi dengan saya di web ini.. ๐Ÿ˜€ Sebelum inti dari artikel ini dimulai, saya mau mengatakan bahwasanya:

Tulisan ini merupakan pendapat saya pribadi, dan tidak ada hubungannya dengan sikap penulis lainnya di jermandes ini.

dengan demikian,

Yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap konsekuensi dari tulisan saya ini adalah saya, dan bukan orang lain. So leave anyone else alone, and blame only me if you have a problem with this note.

Jujur, tadinya saya agak berat untuk menulis tentang ini di sini, karena takut menyinggung pihak yang satu atau yang lainnya. Akan tetapi karena di perjalanannya ada lumayan banyak yang menayakan tentang hal ini, dan ada kejadian terakhir di Aachen yang menurut saya tidak mengenakkan, saya memutuskan untuk membuat tulisan ini. Perlu dicatat bahwa walaupun pada tulisan ini saya akan cenderung lebih memihak ke salah satu sisi, akan tetapi saya mengharapkan kedewasaan para pembaca sekalian untuk mencerna tulisan saya ini. Please take it with grain of salt! ๐Ÿ˜€

A. Pendahuluan

Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang-orang yang ingin melanjutkan sekolah ke Jerman (terutama untuk lulusan SMA/SMK) adalah tentang butuh tidaknya menggunakan jasa agensi untuk melanjutkan sekolah ke Jerman. Adapun alasan dari mereka untuk menggunakan jasa agensi adalah karena takut bahwa prosedur kuliah ke Jerman akan sulit, dan lain sebagainya. Karena itu lah, sebagai salah seorang yang pernah merasakan kondisi seperti itu, akan saya coba untuk membahas tentang penggunaan agensi ini secara lumayan dalam di sini.

Adapun isi dari tulisan ini saya dapatkan dari pengalaman saya, dan teman-teman saya yang pernah ikut, atau kabur, atau pernah punya pengalaman kontak dengan agensi.ย Oia, untuk lebih memudahkan saya menulis dan memperbarui tulisan ini, maka tulisan ini akan saya buat dalam bentuk tanya jawab. ๐Ÿ˜€

B. Tanya Jawab Tentang Agensi Ke Jerman

Apa dan siapa sih agen/konsultan pendidikan ke Jerman itu?

Singkat cerita, mereka adalah pihak yang memperjual-belikan jasa untuk mengurus keperluan kuliah kita ke Jerman. Kita menyerahkan sejumlah uang kepada mereka, kemudian kita mereka akan mengurusi keperluan pendidikan untuk kita pergi ke Jerman (biasanya termasuk mengurus visa, pendaftaran kuliah / Studienkolleg, dan lain sebagainya) sesuai dengan perjanjian yang berlaku antara pihak agensi, dengan konsumen.

Apa saja sih contoh dari agen/konsultan pendidikan ke Jerman itu?

Hm.. Saya gak bisa (dan gak mau) sebut satu per satu di sini, akan tetapi para pembaca sekalian bisa menggoogle nya dengan mudah. ๐Ÿ˜€

Apa sih keuntungan yang kita bisa dapatkan dengan menggunakan agen tersebut?

Dari deskripsi di atas cukup jelas yah, dengan menggunakan jasa agensi, maka kita tidak perlu susah payah untuk mengurus semuanya sendirian. Kalau kita punya uang yang cukup, dan bisa menemukan agensi yang tepat, maka kita hanya perlu ongkang-ongkang kaki saja sambil menunggu waktu keberangkatan ke Jerman. ๐Ÿ˜€

Lah, terus apa salahnya kalau mau ke Jerman dengan menggunakan agen?

Well, gak ada salahnya sih yah sebenernya, selama kita tahu, dan paham betul dari konsekuensi yang kita pilih. Di mana yang saya maksud dengan paham di sini adalah kita:

  1. Tahu apa saja prosedur yang perlu dilewati untuk bisa melanjutkan studi ke Jerman.
  2. Tahu berapa perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk mengurus semuanya sendiri.
  3. Tahu berapa perkiraan biaya yang dibutuhkan jika menggunakan agen.
  4. Tahu benar, dan tentang reputasi dari agen tersebut.
  5. Membaca, dan memahami dengan jelas isi perjanjian, biaya, dan paket yang kita tanda tangani, dan ditawarkan oleh agen tersebut.

Selama para pembaca, dan pengguna jasa agen tahu benar tentang 5 hal ini, saya rasa tidak ada salahnya memutuskan untuk menggunakan agen (resiko di tanggung sendiri yak tapi). Tapi ngomong-ngomong, kalau pun gak tahu tentang 5 hal ini, juga gak bisa disalahin juga sih. Toh keputusannya bukan di tangan saya. ๐Ÿ˜€

Lah terus? Kenapa dengan menggunakan agen ke Jerman?

Hm.. Okeh-okeh, let’s talk. Menurut saya pribadi ada beberapa hal yang pada umumnya membuat penggunaan agen menjadi bermasalah. Sebelumnya saya minta maaf untuk kata-kata yang mungkin akan menyinggung, tapi ini kenyataan yang saya temui di lapangan.

1. Kebanyakan pengguna jasa agensi tidak tahu apa saja prosedur, dan penggunaan biaya mandiri untuk ke Jerman.

Khan saya sudah pake agen, kenapa musti tahu prosedur, dan biaya macem-macem? Tinggal pake jadi saja toh?

Hm.. Gak salah sebenernya pendapat seperti itu, tapi sehubungan dengan itu, saya akan memberitahukan sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Ready?

Gak semua orang baik woi!!!

Perlu diingat bahwa seperti perusahaan komersil lainnya, target akhir dari agensi itu adalah mengeruk keuntungan yang se-“banyak-banyak”-nya dari konsumennya. Dan saya tidak berbohong bahwa tidak sedikit kasus siswa-siswa pengguna jasa agensi yang terlantar (just google it!). Jadi tolong pastikan bahwa anda tahu tentang hal yang sudah saya bilang sebelumnya kalau memang ingin berangkat ke Jerman dengan agensi. Kenapa penting? Karena dengan mengetahui prosedur, dan biaya normal yang dibutuhkan, anda akan bisa memutuskan dengan rasional tentang jasa apa yang akan anda pakai (tergantung budget anda tentunya). Dengan tahu hal ini, maka anda akan lebih siap untuk semua hal yang terjadi, dan menghindari kondisi pengambilan keputusan dibawah “desakan” dari agensi. ๐Ÿ™‚

2. Kebanyakan pengguna jasa agensi kurang melakukan persiapan sebelum ke Jerman.

Salah satu hal yang saya temukan selama kontak dengan teman-teman yang menggunakan jasa agensi ke sini adalah kurangnya persiapan yang sebagian besar dari mereka lakukan/dapatkan sebelum pergi ke Jerman. Kebanyakan dari mereka masih sangat kurang bisa berbahasa Jerman, dan kurang sadar tentang budaya dan kebiasaan di Jerman. Kebanyakan hal ini terjadi karena mereka terlalu mengandalkan agensi, dan terlalu berleha-leha.

Saya pernah bertemu dengan beberapa pemilik/pengurus kos-kosan di sini yang mengeluhkan tentang joroknya orang Indonesia yang tinggal di tempat mereka, dan selidik punya selidik, mereka adalah anak-anak agensi yang baru datang dari Indonesia. X_xย Hm.. Kalau mau jujur, sebenernya kamar mereka gak jorok-jorok amat, akan tetapi tingkat kebersihan seperti itu tidak cukup! Dari pengalaman saya nyapu rumah orang, dan beberapa kali pindahan kamar, kalau orang Jerman dimasukkan ke dalam kategori orang Indonesia, maka mereka akan tergolong super duper bersihan! Believe me, ribet pisan. Setiap pojok harus bersih dan bebas debu, bekas jamur harus dihilangkan, dan lain sebagainya. Sesuatu yang gak pernah saya lihat sewaktu saya dulu kok di Indonesia. X_x

Untuk masalah bahasa, kebanyakan dari mereka baru bisa melafalkan bahasa Jerman dengan terbata-bata. Sehingga banyak menimbulkan salah komunikasi dengan banyak pihak. Sebagai gambaran, untuk komunikasi sehari-hari pada dasarnya akan dibutuhkan bahasa Jerman setingkat B1, akan tetapi dari pengalaman saya meskipun kita punya sertifikat B1, bukan berarti kita sudah bisa menggunakan bahasa Jerman setingkat B1 dengan leluasa. Kemungkinan besarnya adalah kemampuan aktual kita akan ada di bawah itu, dan akan butuh waktu untuk beradaptasi. Poinnya di sini: mereka kurang dipersiapkan baik secara bahasa, maupun budaya, sehingga timbul masalah-masalah komunikasi yang sebenarnya tidak perlu (ingat bahwa tugas/kegiatan utama mereka adalah belajar).

3. Kebanyakan dari agensi menetapkan harga yang super overprice.

Sebenernya sah-sah aja kalau mau masang harga berapa pun untuk sebuah jasa. Tapi agak gimana gitu ngeliatnya kalau untuk Stadtanmeldung (daftar diri di kota) aja kita kena biaya jasa sebesar puluhan, bahkan ratusan euro. Silakan datang ke sini, dan buktikan sendiri apakah ungkapan saya ini berlebihan atau tidak.

4. Ada pihak agensi yang tidak memberitahu informasi yang seharusnya diberikan.

Informasi memang menjadi bahan jualan utama dari agensi pendidikan ke Jerman. Namun, yang menjadi aneh adalah ketika pada pengguna jasa tidak diberitahukan hal yang seharusnya diberitahukan. Yang terjadi beberapa waktu yang lalu di Aachen adalah anak-anak pengguna jasa agensi tidak tahu kapan kos-kosan mereka akan habis. Entah karena itu keteledoran dan kemalasan pihak pengguna jasa, atau memang pihak agensinya yang kurang peduli, entahlah. Tapi yang terjadi adalah suatu hari sang empunya kos datang ke rumah, dan memberi tahu bahwa tidak sampai sebulan lagi tempat tinggal mereka akan habis (atau sudah habis yah? saya agak lupa, tapi kira-kira begitu). Sebagai gambaran, mencari rumah di Aachen itu sulit banget! Kita bisa dapet, tapi itu harus bener-bener rejeki, dan dilakukan dari jauh-jauh hari (hitungan bulan). Jadi aja mereka tumpang menumpang di tempat temannya di sana (dan kalau mau jujur, kegiatan ini ilegal, dan rentan menimbulkan masalah).

5. Ada pihak agensi yang tidak “serius” memberangkatkan konsumennya ke Jerman.

Selesaikah masalahnya di 4 tadi? Ternyata nggak, ada aja agensi yang aneh-aneh. Saya mendengar cerita dari salah satu teman saya yang pernah mau ikut agensi (tapi akhirnya kabur) tentang gimana agennya dia tidak serius, dan cenderung menggelapkan uang yang disetor oleh pengguna jasanya. Di cerita teman saya itu dia menceritakan bahwa ketika dia mau berangkat, ada (banyak) temannya yang sudah lama daftar masih belum diberangkat-berangkatkan, padahal semuanya sudah lengkap. Akhirnya teman saya yang mencium bau tidak sedap tersebut, mengundurkan diri dari agensi tersebut.

Kocaknya yah, angkatan pertama dan kedua dari agensi tersebut difasilitasi dengan baik (keberangkatan tepat waktu dan diurusin ini itu). Namun entah kenapa angkatan-angkatan berikutnya ada masalah. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah coba cek lagi kualitas, dan reputasi dari agen yang akan pembaca pakai (gampang kok, tinggal cari di google atau di kaskus). Dan kalau pun reviewnya positif (di mana saya jarang menemukan), tetap jangan lengah! Karena bisa jadi kasusnya kayak poin nomer 5 ini. Angkatan awal baik, trus yang berikut-berikutnya gak oke. ๐Ÿ˜€

Hm.. Begitu yah.. Terus gimana dong? Saya gak tau cara nyari-nyari info untuk ke sana.

Dear god.. Plis google.. Jaman sekarang sudah berbeda dengan jaman dulu waktu awal-awal saya ngumpulin info ke Jerman. Kalau jaman dulu info di internet masih tersebar-sebar, dan gak kohesif, jaman sekarang udah banyak web atau blog yang menginformasikan ini secara lengkap. Tinggal ketik www.google.com, dan masukkan kata sandinya. Ada kok infonya.

Yang kebanyakan gak ada itu cuman 1. Kemauan kita untuk mencari informasi. As simple as that.

Hm.. Trus kalau masalah birokrasi gimana? Ribet gak?

Definisikan ribet. Kalau menurut kamu ribet adalah banyak yang diurus, saya gak akan bohong, buanyak! Makanya harus nyicil dari jauh-jauh hari. Akan tetapi kalau definisi ribet kamu adalah harus bayar pungli ini itu dan dipimpong sana sini, satu kata: nggak! Dan sebagai bukti nyatanya, saya pribadi tidak membayar 1 rupiah pun pungli untuk biaya ke Jerman. Eh tapi kalau dipikir-pikir ada sih, dan itu buat beli map waktu mau ngurus pasport. ๐Ÿ˜€

Hm, sebagai sesama orang indonesia, saya ngerti banget kok ketakutan para pembaca tentang birokrasi. Apalagi ini untuk keluar negeri, saya yakin di luar sana banyak yang seperti saya, tidak pernah / jarang banget ke luar negeri, dan tiba-tiba banyak harus mengurus semuanya sendiri. Dan dengan budaya birokrasi di Indonesia (yang pungli di mana-mana), saya memaklumi bahwa ada ketakutan itu. Tapi jangan khawatir, semua lurus-lurus aja kok. Kalau saya, seorang yang gak pernah sekali pun ke luar negeri, bahkan gak pernah sekali pun naik pesawat (well, airplane is just scary!!!) bisa ke sini dengan selamat, dan utuh, saya yakin kamu juga bisa. ๐Ÿ˜€

Gitu yah.. Okeh, katakan kita bisa ngurus semua keberangkatannya, tapi yang sebenarnya saya takutkan adalah saya (atau anak saya) tidak punya kenalan di Jerman, dan takut terlantar..

Well, saya sudah menunggu pertanyaan ini. Jujur saja, saya orang yang relatif beruntung punya teman di Jerman, di mana teman saya itu menawarkan untuk menjemput saya di bandara, dan bantu-bantu saya untuk orientasi kota tempat saya tinggal. Tapi untuk kamu-kamu yang gak punya kenalan di sini, jangan khawatir ini saya coba kasih tipsnya. ๐Ÿ˜€

1. Pilih kota yang banyak orang Indonesianya.

Kalau kamu takut untuk terlantar di Jerman, pastikan bahwa kota yang kamu tuju punya lumayan banyak populasi orang Indonesia yang tinggal/kuliah di sana (contoh: Berlin, Aachen, Mullheim (Duisburg-Essen), Gรถttingen, dan lain sebagainya). Cara ngeceknya gimana? Tinggal buka facebook, dan lihat apakah ada grup PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) yang mewakili kota tersebut (misal: PPI Aachen). Kalau ada, dan grupnya aktif, itu pertanda baik. ๐Ÿ˜€ Tapi kalau gak ada seperti kota saya (PPI Paderborn), kemungkinannya ada orang Indonesia di sana kecil, dan kalau pun ada, tidak akan banyak. ๐Ÿ˜€

2. Cari kenalan di grup PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) yang ada di facebook.

Kamu sudah memutuskan kota yang mau kamu tinggali di Jerman, sekarang saatnya membut kontak, dan mencari kenalan anggota PPI yang ada di kota kamu. Caranya? Just go to their group, and post in there. ๐Ÿ˜€

3. Jangan terlihat/berlaku seperti orang bodoh saat membuat kontak di grup PPI.

Oia, satu hal penting yang harus kamu catat waktu membuat kontak di grup PPI adalah:

Jangan terlihat/berlaku seperti orang bodoh, dan pemalas.

Tunjukkan kalau kamu sudah melakukan tugas kamu dalam mencari informasi yang lengkap, dan hindari pertanyaan-pertanyaan sampah (sori bahasanya keras) seperti: gimana caranya bisa masuk ke Universitas/FH di sana, kapan deadline pendaftaran, dan informasi-informasi lainnya yang pada dasarnya bisa digoogle. Jujur yah, bukannya mau bersifat sombong atau apa, tapi yang sebagian besar dari kami rasakan adalah:

Percuma membantu orang yang gak niat, dan gak bisa membantu dirinya sendiri.

Tolong jangan lupa, kalau kami bukan malaikat. Kami hanya manusia biasa yang tinggal jauh dari negeri sendiri dan punya segudang masalah (kuliah, finansial, dlsb). ๐Ÿ˜€

Kerjakan PR kamu, cari informasi yang cukup, buat kontak dengan ramah, dan semuanya saya yakin akan baik-baik saja. Sebagian besar dari kami akan respek kok kalau kamu terlihat sebagai orang yang berusaha sungguh-sungguh mau ke sini, bahkan bukan gak mungkin kamu diajak kumpul-kumpul bareng juga (seriusan). We are just humans afterall. ๐Ÿ˜€ Jadi gak perlu khawatir tentang masalah di sini akan terlantar, toh pakai agen juga gak sedikit loh kasus orang yang terlantar. ๐Ÿ˜€

Hm..

Hm (juga).. ๐Ÿ˜€

C. Kesimpulan

Jadi apa kesimpulannya? Kesimpulannya adalah semuanya kembali ke diri kita masing-masing perihal penggunaan agen ini. Saya tidak akan mencampuri urusan anda sekalian memakai agen atau tidak, akan tetapi di dalam membuat keputusannya saya menyarankan untuk mempertimbangkan dan melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Cari tahu prosedur-prosedur apa saja yang harus kita lalui untuk melanjutkan studi ke Jerman.
  2. Cari tahu berapa budget yang kita butuhkan untuk mengurus semuanyas secara mandiri.
  3. Menggunakan agen bukan berarti kita tinggal ongkang-ongkang kaki aja.
  4. Menggunakan agen bukan berarti bebas kemungkinan kalau anak kita tidak akan terlantar.
  5. Cek kembali reputasi, dan rekam jejak agensi yang akan anda pakai.
  6. Tidak menggunakan agen pun sebenarnya bisa dilakukan, dan jangan takut terlantar. Selama ada kemauan pasti ada jalan. Tuhan itu gak buta dan tuli kok. ๐Ÿ™‚

Singkatnya:

Jadilah pembeli yang pintar. ๐Ÿ˜€

*Eh iya, dengan segala hormat, tolong jangan ada iklan-iklan terselubung dari pihak agensi di artikel ini yah. I will definitely delete and block your comments. And please don’t play dumb or use your tricks here, I am not that stupid though. ๐Ÿ˜€

Last 5 posts by wahidyankf

4.33 avg. rating (83% score) - 6 votes
  • adriangood

    Kalo menurut gw kenapa banyak yang pake agen, karena mereka males cari infa,pa dahal di internet itu sumber nya banyak banget… Selain itu ada beberapa yang ga mau ribet, kalo harga yang di pasang agen ud 2 x lipat dr biaya hidup setahun disini (8040 euro) .. mending pikir2 lg dah yak… Kecuali kalo ortu lo ga terlalu berat ngeluarin duit sgitu

    • wahidyankf

      Halo Adriangood..

      Yap, itu benar, dan saya sepakat. Tapi perlu diketahui bahwa gak sedikit juga loh anak yang rajin nyari, cuman perlu disuruh pake agen karena orang tuanya pengen “garansi” lebih. ๐Ÿ™‚

  • Pieter

    Hallooo Mas Wahid, sy salut dgn artikel anda, dkk di blog ini, seandainya blog ini duluan ada, mungkin sy ndak pake jasa agensi utk anak sy, โœŒโœŒโœŒ, tp bgmnpun sy berSyukur ini jln Tuhan krn setelah sy berDoa, 2 hr kemudian ada teman yg contact masalah kuliah di Jerman, singkatnya ” jangankan direncanakan, mimpipun ndak “.
    Setelah membaca artikel Mas Wahid diatas, skrg mulai sadar bhw sy ndak pernah “sign contract” hahaha, hanya mengandalkan Doa dan kepercayaan pada kawan sy itu ( just personal quarantee ), memang harus jeli utk “membeli” jasa agensi,info anakku bhw ada agensi yg “nakal” tp ada jg yg baik, harus byk2 bertanya spy tdk salah pilih, sy sarankan proaktif tanya pada om google.
    Sy pernah jadi pengurus PPI cabang Taiwan, bahkan cikal-bakal PPI Taiwan yg resmi diakui oleh pemerintah Indonesia, hehehe, inilah sebabnya knp sy juga pengen nimbrung disini krn bisa merasakan suka-duka kalian demi adik2 (calon siswa – sy ndak pake “maha”siswa krn “Maha” hanya utk Tuhan , makanya PPI ).
    Percayalah bhw kakak2 kalian akan sgt membantu apabila adik2 punya kesulitan ( bukan cengen yah, krn mereka dirantau jg punya permasalahan sendiri2 ), Selamat berjuang semoga sukses adik2ku, sy sebut adik krn sy blom terlalu tua, hahaha. Tuhan selalu menyertai hambaNya yg tekun dan jujur, Amin.

    • wahidyankf

      Halo Pak Pieter,

      Sebenernya yang saya yakini memang gak semua agen itu “jahat”. Seperti prinsip 20-60-20 (20 persen selalu baik, 20 persen selalu jahat, 60 persen angin-anginan), selalu saja ada agen yang selalu baik (meskipun cuman 20 persen misalnya). Pak Pieter termasuk orang yang beruntung sebenarnya bisa punya pengalaman yang bagus dengan agensi. ๐Ÿ˜€ Tapi yang terpenting menurut saya adalah sekarang anak bapak sudah bisa adaptasi dan lancar di Jerman sini. It is always nice to hear that. ๐Ÿ˜€

      Dan saya pikir kalau memang kita tahu betul apa yang kita beli dari agen tersebut dan paham akan plus minusnya, saya rasa gak ada masalah. It is just a matter of choice and preference. ๐Ÿ˜€

  • Pieter

    Hallo Mas Wahid……
    Itulah sy berSyukur krn kami salah satu org beruntung dpt agensi yg baik,…… sebenarnya kami juga SANGAT was2 setelah kami diberitahu bhw byk agensi yg nakal…

    • wahidyankf

      Aamiin.. Doa yang sama untuk bapak dan keluarga.. ๐Ÿ˜€

  • Prananda

    ane tahun ini bakalan lulus SMA nanti setelah unas saya akan les bahasa jerman di goethe institut di surabaya ( kalo ada masukan les bahasa jerman yang lebih recomended tolong dikasih tau ya ๐Ÿ˜€ ) jadi saya insyallah akan berangkat ke Jerman tahun 2015 mau mempersiapkan bahasa jerman saya dulu biar gak kesulitan. saya sempat terpengaruh sama agen agen itu yang menawarkan harga 80 juta saya membaca disini web ini juga bahwa semua total pengurusan gak sampek 30 juta -_- gw langsung kaget dan sangat berterima kasih sama web ini. mau cari informasi2 tentang jerman dulu. saya kalo bisa mau minta no hp atau pin BB atau whatsapp wahidyankf untuk bertanya tanya. Terima Kasih

    • wahidyankf

      Halo Prananda. Btw itu gak sampe 30 juta belum termasuk si uang jaminan di rekeningnya loh (jangan lupa perhitungkan juga kalau misalnya ke Jermannya gak pake beasiswa / mandiri). ๐Ÿ˜€

  • Pieter

    Hallooooo Prananda,
    Masalah uang coba bandingkan apa saja yg ditawarkan, contoh membeli martabat, klo yg biasa hanya 1 telor harganya Rp.8.000 tp jgn kaget klo ada martabat yg Rp.40.000 per buah, krn yg mahal ada daging sapi, telornya 4 biji dan bisa utk ber-10 dll, anda harus list apa saja isinya yg ditawarkan, krn sy-pun pernah disodori hanya Rp.24 jtan, tp hanya pengurusan dokumen aja tanpa biaya visa, bimbingan bhsnya hanya 10 jam, tdk termasuk tiket pesawat, dll.klo anda rencana brgkt 2015, alangkah baiknya anda mulai list apa saja yg harus dikerjakan ( sdh ada artikelnya di blog ini ) dan mencicil applynya spt kata kak Wahid, contoh legalisir copy akte lahir sdh bisa dibuat, list alamat yg hrs anda pergi contoh alamat Kedutaan Jerman, jam pelayanan apply maupun jam pengambilannya, no telp, dinas pendidikan jkt, dll, sptnya sepele

    • Pieter

      Hallooo, sorry martabak bukan martabat

  • amazing !!! ini blog luar biasa!! gaya bahasa yg menarik. bermanfaat sekali semua pertanyaaan saya terjawab sudah.

    semoga penulis dirahmati Allah SWT. Aamiin….

    • wahidyankf

      Thanks, doa yang sama buat kamu. ๐Ÿ˜€

  • yahya

    bener juga jadi pengacaan diri juga sih :o, buat kebaikan bersama juga kasihan banyak teman teman se angkatan yang selain udah di batasi info sama agen nya juga di gantung in gitu…

    ada kasus juga nih temen visa ditolak :(,
    jadi dia pakai agen yang perseorangan gitu. Bayar puluhan juta udah kelar semuanya sampai Sprachkurs.. ternyata eh ternyata gimana ceritanya apa kesalahan agen nya atau gimana ternyata namanya gak ada di Sprachkurs nya… tapi no offense. Just share biar hati hati sama agen perseorangan yang minta sekian tapi cuman sampai Sprachkurs._.

    ehya bang wahidyan akhirnya visa ane keluar juga ๐Ÿ˜ฎ
    jermandes masih buka open recruitment kan? ๐Ÿ˜€

    • wahidyankf

      Halo yahya.

      Glad to hear that. ๐Ÿ˜€

      Masih buka terus kok oprecnya.. ๐Ÿ˜€

    • revi

      hallo yahya ๐Ÿ™‚
      kebetulan aku kasusnya sama tuh sama dia jangan jangan kita satu agen lagi~ aku dari bandung dan bukan berarti visa aku ditolak jadi kecewa lagi pula aku juga belom B1 jadi lebih baik memantapkan dulu di sini sebelum meluncur ke jerman dan belom jelas hidup di sana bagaimana. dan aku gak suka kamu menjelek jelekkan agen perseorangan, karena yang mengurus agen perseorangan itu namanya risti dan dia sangat baik sama murid murid nya, semua diurusi olehnya dan keunggulan dari agen perseorangan adalah walaupun dia sudah pulang ke indonesia setelah mengantar, dia akan tetap membantu kita walaupun kita ada susah atau lainnya. dia pun berkata kalau ingin dikirimkan lagi untuk studienkolleg maka dia akan senang hati membantu. kalau agen yang mahal mahal itu sih kurang tahu ya dan saya bahkan gak sampai 100juta dengan dia kok ๐Ÿ™‚
      jadi mohon jangan meremehkan agen perseorangan terima kasih.

  • Pieter

    Sesuai pengalaman sy, pokoknya urus sendiri ato pake jasa agensi, kita harus tau betul step-step dan jadwal setiap pengurusan, waktu sebaiknya jgn dihitung terlalu pas spy apabila ada dokumen/foto yg kurang ato ditolak, mk kita masih bisa memperbaiki, contoh spt skrg Jakarta banjir, mk transportasi terganggu, wkt anda melor 2-3 hari lg, INGAT org Jerman sangat kaku dan sulit menerima alasan kecuali sakit ato masalah yg sulit diprediksi tp klo banjir biasanya mereka katakan mengapa tdk pagian ngurus……..

  • Riesta Palupi Hasanah

    Ini artikelnya bagus. Saya suka. Artikel seperti ini emang perlu ditulis sebagai testimoni, karena saya juga melihat bagaimana kesusahan adik2 yang menggunakan agen. Memang sih, mereka berhasil berangkat ke Jerman, tapi sampai di Jerman mereka harus bersusah payah sendiri untuk masuk Studien Kollege.

    Seperti penhalaman adik saya, dia sampai di Nรผrnberg dan harus daftar sana sini di tiap kota, setelah menunggu selama 2 bulan baru bisa masuk di kota Leipzig. Bahkan ada juga yang sudah nunggu selama 1 semester dan belum dapat StudienKollege. Dan yang paling menyedihkan ketika mereka gagal (harus mengulang) mereka harus pulang kampung.

    Saran saya, mantapkan kendala bahasa rerlebih dahulu dan lebih baik mendaftar di STK di Indonesia saja, walaupun persemester mahal, tapi sampai di Jerman tidak terlantar. Salam super!

  • Muhamad Kasyfi Dunggio

    Kalo jurusan management di jerman yang bagus itu di universitas mana? Terus saya mau tanya menurut anda kalo mau ikut agen dimana ya yang terjamin

  • dinda siahaan

    Terima kasih atas artikelnya ^^ sangat membantu

  • Adrian Arif

    “menyerahkan sejumlah uang kepada mereka”
    Berarti agensi minta uang ke student?
    Kaget saya.
    Baik yang ikut di asosiasi, maupun yang tidak, sama-sama TIDAK BOLEH mengutip dana dari student untuk pengurusan. Agensi, di seluruh dunia, mendapatkan komisi sekian puluh persen dari sekolah atau kampus yang menjadi tujuan student. Bahkan agen sekelas Vista yg minta dana setengah juta di depan pun, mengembalikannya saat student berangkat (leaving). Apalagi seperti IDP, SUN atau AUG.
    Percayalah, uang dari orang tua atau student ke agensi, nggak sebesar komisi, belum lagi dengan uang promosi, mengadakan pameran, school visit, trip, dll. tentu saja, kecuali student ybs sengaja ‘nyogok’ untuk bisa masuk, karena tidak bisa masuk, atau tidak lolos.
    Agensi yg curang, tidak jujur, dll, tinggal dilaporkan ke kedutaan negara tujuan atau ke kampus, mereka akan diberi sanksi, bahkan diusir, seperti kejadian tahun lalu di New Zealand dan Inggris. Bahkan LSBF saja bisa kena.

  • endah

    kak, kalau dari segi finansial mengurus sendiri dengan menggunakan agen jatuhnya lebih hemat atau sama saja ?

  • Pingback: Menjadi Aupair Perlu Pakai Agen Atau Tidak? | ethariesta's Blog()

  • Zaim Marzuki

    apakah ada rekomendasi jasa yg baik? atau kenalan2 di jerman atau admin sendiri bisa membantu proses2nya? terimakasih