News Ticker

Bergaul Dengan Orang Jerman – Bag. 2

Hallo teman-teman jermandes. Berjumpa lagi dalam tulisan saya yang kedua mengenai kehidupan dan bergaul dengan orang Jerman bahkan bule Eropa lainnya.  Kali yang kedua ini, saya coba berbagi pengalaman tentang etika kultur kebiasaan antara Jerman dan Indonesia. Ini bukan sekedar isu-isu agama tetapi jug isu-isu budaya serta kebiasaan bangsa kita yang di mata mereka tidak lazim. Mereka akan bertanya mengapa ini dilarang di Indonesia. Terkadang kalau pertanyaan yang berhubungan dengan ajaran agama tertentu, jawaban tidak tahu merupakan jawaban yang aneh, karena buat apa kita meyakini agama tertentu tapi hanya ikut-ikut saja atau karena turun dari orang tua kita. Beberapa hal dibawah ini saya rangkum dari beberapa hal yang sering orang Jerman atau orang-orang eropa kebanyakan bertanya. Untuk menjawabnya terntunya kita harus sabar dan bukan dengan dalih-dalih agama, tapi sedikit logika dan bukan statement agresif juga. Berdasarkan pembicaraan dengan teman-teman yang dulu sama-sama pernah di bekas Jerman Timur, malah ini justru sering ditanyakan di eks negara-negara bagian Jerman Timur bukan di negara-negara begian di sebelah barat. Yah saya juga kurang mengerti kenapa, mungkin karena banyak orang atheis di bekas Jerman timur yang dibawah kendali komunis. Nah berikut beberapa pertanyaan yang sering mereka tanyakan, tapi sangat sayang kalau kita tidak dapat menjelaskan secara baik.

  • Trinkkultur, alkohol, pesta (ohne Alkohol keine Party). Pesta disni dalam artian luas, bukan pesta dalam konteks dugem atau clubbing dengan musik jedag jedug dan sorot lampu ala disko. Pesta bisa jadi ketika teman ada yang berpisah akan pindah atau meninggalkan kota itu, atau hanya pesta kecil akhir pekan. Mereka orang Jerman atau negara dengan 4 musim, selalu menyertakan minuman beralkohol. Mereka butuh sesuatu yang membuat santai, tertawa lepas, dan lebih easy going, sudah pasti alkohol solusinya. Ketika pesta ada saja yang bertanya kenapa kita orang Indonesia tidak meminum alkohol. Jawabannya mudah dan engga perlu dalil dalam hadist atau Al-Qur’an bagi yang muslim. Cukup jelaskan saja, “kita orang Indonesia hidup di negara yang hangat dan karakter kita sudah cukup santai dan bisa membuat orang tertawa dalam keadaan normal. Dengan kata lain kita tidak terbiasa dan toleransi kesadaran kita terhadap alkohol sangat kecil. Jadi akan sangat mudah mabok dan lepas kendali. Bukannya malah jadi santai dan tertawa lepas tapi malah terus meracau sampai curhat karena efek alkohol, dari nangis sampai marah-marah (hasil pengamatan teman-teman di Indonesia dulu yang suka minum, hahaha)”. Dan pastinya ketika kita meminum minuman beralkohol tentu reaksinya akan berbeda dengan mereka yang di negara dingin dan karakter mereka yang dingin pula. Kalau orang Jerman minum untuk mencari kesenangan dan sedikit santai, kalau kita malah menyusahkan diri sendiri. Tapi tenang, kalian tidak sendirian, di Jerman sedang gencar kampanye anti alkohol seperti ini. Bahkan sampai ada website informasi mengenai kampanye ini. Silahkan dibaca, barangkali kalian bisa orasi di pesta itu menyerukan stop minuman alkohol,, ya kali… hahaha
  • Schweinefleisch, pork, atau konsumsi daging babi. Nah kalau ini bersinggungan dengan agama tertentu. Terkadang dengan jawaban “itu dilarang di agama saya ” tidak cukup membuat mereka puas. Terus terang saya bukan ahli agama dan bukan hafis Al Qur’an, tapi saya sempat ditanya ini. Dan bukan bermaksud menyinggung ajaran agama tertentu. Saya cukup jelaskan: “kalau dulu di jazirah arab pada zaman nabi, konon babi adalah hewan yang tidak bersih karena apa yang dimakan. Terus turun perintah tidak mengkonsumsi daging ini karena alasan kesehatan waktu itu. Karena kita tidak mengenal adanya revisi pada kitab suci kita, jadi aturannya tetap begitu. Kalaupun ada revisi, perubahan itu melalui organisasi keagamaan yang sudah diakui yang dikenal dengan “fatwa”. Terus terang ini bukan jawabannya yang bagus dan waktu itu sempat dipertanyakan sama salah satu kawan. Saya engga bisa memuaskan keingintahuan dia. Tapi kira-kira begitu penjelasan saya. Yah dalam setiap agama pasti ada perintah yang sifatnya tidak perlu penjelasan logika dan ilmiah untuk melaksanakannya, yah jalankan saja. Tapi kalian mungkin ada penjelasan lain versi kalian sendiri dan boleh dicoba.
  • Puasa 30 Hari pada musim panas. Ini pernah ditanyakan oleh tutor bahasa Jerman saya di kampus yang dulu. Dia bilang kalau tidak makan dan minum mulai dari sejak terbit matahari sampi terbenamnya matahari itu tidak mungkin dan tidak masuk akal. Tubuh kita perlu cairan sekian liter setiap hari dan butuh energi sekian kalori di musim panas yang banyak mengeluarkan keringat. Saya sih waktu itu jawabnya: “memang tubuh kita butuh cairan dan asupan gizi ekstra ketika musim panas. Tapi apakah ada berita seorang muslim di Jerman masuk rumah sakit atau jatuh sakit ketika puasa? Kecuali dia memaksakan diri. Dengan beberapa kondisi tertentu misal sakit, perjalanan jauh, dll, kita boleh membatalkannya dan mengganti di lain hari. Yang terpenting disini adalah perintah manusia untuk menahan diri dari segala nafsu, dan kita akan merayakan di akhir bulannya karena telah berhasil menahan diri”. Pastinya dia tidak puas dengan jawaban ini, dan kita tidak harus menceramahi dia dengan dalil-dalil. Urusan dia puas atau tidak dengan jawaban kita yah itu urusan mereka. Yang penting kita sudah berusaha.
  • Zusammenleben dan sex sebelum nikah (kumpul kebo). Pertanyaan seputar ini belum ada yang bertanya, karena di Jerman ini sama-sama saling mengerti privasi orang lain. Dan pastinya orang Jerman juga malas berbicara ini kecuali dengan teman dekat (itupun sangat jarang). Tapi mungkin saja nanti ada yang bertanya seperti ini. Bilang saja kalau di daerah tertentu yang penduduknya saling kenal baik seperti di desa dan perkampungan. Perbuatan ini sangat lah memalukan, ujung-ujungnya harus dikawinin seperti di film warkop dono kasino indro, si dono dikawinkan dengan anak kepala desa karena tertangkap basah berdua-duaan… hahahaha… Tapi mereka pun tidak akan bertanya jauh ke ranah ini karena ini sangat personal. Tapi ada saja orang yang keceplosan membahas kumpul kebo dilarang di negara kita ketika asik diskusi atau ngobrol.
  • Kenapa wanita di Islam menggunakan Jilbab. Ini belum pernah sih ditanyakan, lha kan saya engga pakai jilbab… ya iyalah.. Tapi ada kalanya mereka bertanya apa maksud dari ini. Saya ada sebuah analogi yang sering saya dengar dan baca. Adalah sebuah cerita seorang yang dari eropa bertanya pada seorang syekh, kenapa wanita dalam Islam harus mengenakan Jilbab. Syekh itu lalu mengambil dua buah permen yang terbungkus rapi kemudian salah satunya dibuka dan dijatuhkan ke tanah yang berdebu begitu permen yang satu lagi yang masih terbungkus rapi. Lalu syekh itu memungutnya dan bertanya, kira-kira mana yang akan dia ambil untuk dimakan? Tentu si pemuda eropa itu bilang yang terbungkus. Begitulah wanita dalam Islam dijaga sedemikian rupa kehormatannya. Yah teorinya gampang tapi gimana jelaskan dalam bahasa Jermannya itu lho… hahaha…
  • Kenapa kita menghindari anjing, padahal kan lucu. Saya teringat kejadian ketika saya mengunjungi ulang tahun suami istri Jerman Indonesia ke rumahnya. Salah satu tamu ada yang membawa anjing kesayangannya. Teman Indonesia yang Islam yang sangat taat, sangat menghindari anjing walaupun dia waktu itu diundang ke rumah keluarga Jerman Indonesia. Bukannya takut karena digigit tapi karena menghindari sentuhan dengan anjing itu. Jangan pernah bilang anjing adalah hewan yang dilarang disentuh atau dipelihara di dalam agama kita, bukannya apa-apa. Anjing itu adalah hewan yang dianggap sebagian besar orang Jerman adalah seperti keluarga. Bagi Opa dan Oma yang jauh dari keluarga bahkan tidak memiliki anak, anjing yang lucu adalah anak bagi mereka. Jangan menunjukan sikap jijik yang berlebihan di depan mereka, cukup bilang saja kalau kalian takut anjing. Pastinya mereka akan mengkondisikan anjing mereka untuk lebih sopan.
  • Senyum bukan berarti tidak serius. Masalah kebanyakan orang Jerman itu adalah mereka terlalu serius. Bahkan sangking seriusnya, ketika kita mendengarkan mereka berbicara, dan kita tersenyum, mereka anggap kita itu tidak serius. Astaga sebegitunya kah orang Jerman, iya memang demikian. Ini terjadi ketika teman Indonesia saya di kelas Sprachkurs dulu dinasehatin untuk tidak memainkan hand phone di kelas selama kegiatan belajar berlangsung. Ketika dinasehatin, teman saya senyum-senyum sebagaimana layaknya keramahan orang Indonesia, tapi guru bahasa Jerman kami yang notabene Jerman tulen langsung marah dan beranggapan teman saya itu tidak serius. Lain lagi cerita salah seorang senior saya di Jerman ketika memberikan workshop tentang kehidupan di Jerman. Dia dimarahin profesornya ketika konsultasi Skripsinya, senior saya ini tersenyum-senyum ramah ala Indonesia. Ketika ditanya kenapa dia tersenyum-senyum. Dia senyum adalah kebiasaan kita orang Indonesia untuk ramah kepada orang lain karena negara kita hangat dan matahari bersinar konstan sepanjang tahun. Jadi kita selalu tersenyum sebagai ungkapan mood yang baik dan keramahan. Mendengar penjelasan ini, si Professor langsung mengangguk-angguk dan menyetujui apa yang dikatakan senior saya ini. Tapi jangan sering-sering senyum sendiri juga, nanti malah dianggap gila…

Yah, mungkin itu sedikit pengalaman saya yang bisa saya bagikan tentang bagaimana bergaul dengan orang Jerman dan ketika mereka bertanya ini itu seputar kebiasaan kita. Dan sebenarnya orang Jerman itu engga se-kepo (pengen tahu bangeet) orang Indonesia ketika baru pertama kali berkenalan, bisa jadi cerita diatas engga terjadi sama kalian. Mungkin kalian punya cerita berbeda jika berhadapan dengan situasi diatas, jadi semua tergantung pembawaan diri kita masing-masing sih.

Last 5 posts by indrachen

1.00 avg. rating (43% score) - 1 vote
  • Pingback: Bergaul dengan Orang Jerman – Bag. 1 | JERMAN-NDES!!!!!()

  • bagus mas artikelnya.. 😀

    • terima kasih sudah mampir dan komengnya, jadi makin semangat… hahaha

  • yahya

    update lagi mas kali aja ada pengalaman2 yang lain.
    hehe thumbsup

  • TKI perantauan

    “Senyum bukan berarti tidak serius” ya..ya.. setuju sekali yang ini, memang aku lihat Indonesia adalah bangsa yang ramah, lg ngomong serius aja sambil senyum2…masya Allah… dan ini tidak terjadi dengan negara selain Indonesia..he..he..(aku senyum juga nih..)

    • iya memang itu yang terjadi disini, senyum memiliki maknya yang berbeda dengan di Indonesia… hahaha

  • TKI perantauan

    Tapi ya gitu.. kebiasaanku ngomong sambil senyum sedikit demi sedikit berangsur hilang… gara2 terbawa orang sini…padahal itu emang budaya Indo ya…. salam dari Saudi

    • senasib lah kita, saya sampe dibilang galak sama ibu, masak ngomong biasa aja kaya marah2.. padahal itu bukan marah tapi penegasan…

  • Awal Laili Yuanita Nasukhah

    Berteman dengan orang Jerman terlihatsangat susah ya.. Jadi ingat dulu kira-kira 6 tahun lalu saya punya teman FB orang Jerman awalnya masih chat setelah agak lama kok sekarang chat saya nggak pernah di balas ya.. Mau tanya dong orang Jerman yang serius kayak gitu main socnet nggak? pakai aplikasi messenger nggak? Kalau iya pakai apa ya, mau coba cari teman dengan jalan ini supaya bisa melatih bahasa Jerman saya hehehe

  • Haze Ziegler

    Suami saya orang Jerman. Dia paling ga bisa mentolerir mengobrol sambil memainkan handphone. Dia ga suka menyapa teman-teman saya, bukan memusuhi tapi cuman ga suka SKSD. Pernah saya coba membuat lelucon, menurut saya lucu tapi dia ga ketawa. Giliran ada humor yg sebenarnya garing banget eh dia malah ketawa.